Tuesday, November 26, 2013

The 34th Asian Conference on Remote Sensing 2013, Denpasar, Bali


Sebuah konferensi internasional di bidang penginderaan jauh bertajuk ACRS 2013 telah dilaksanakan pada tanggal 20 – 24 Oktober 2013 yang lalu. Kegiatan yang sudah berlangsung untuk kali ke-34 ini diadakan di Denpasar, Bali. Kegiatan yang bertema “Bridging Sustainable Asia” ini diselenggarakan sebagai hasil kerjasama antara Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia (MAPIN) dengan Asian Association on Remote Sensing (AARS).


ACRS 2013 dibuka dengan kata sambutan yang diberikan oleh Dr. Dewayani Sutrisno selaku Ketua Panitia kegiatan dan Ketua Umum MAPIN, Prof. Kohei Cho (Sekretaris AARS), Prof. Shunji Murai (AARS), dan Prof. Gusti Muhammad Hatta selaku Menteri Riset dan Teknologi. Selain itu, pada sesi pembukaan juga diisi dengan berbagai paparan yang disampaikan oleh Dr. Asep Karsidi (Kepala BIG),  Drs. Bambang Tejasukmana (Kepala LAPAN), Dr. Marzan A. Iskandar (Kepala BPPT), dan Ir. Agoes Widjanarko (PU).


Kegiatan yang menjadi salah satu konferensi penginderaan jauh terbesar di Asia ini diikuti oleh 1379 peserta yang berasal dari beberapa negara, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, China, Taiwan, Jepang, India, dan Iran. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri beberapa pakar yang berasal dari beberapa negara luar Asia, seperti Amerika Serikat, Belanda, Italia, dan Jerman. Sebanyak 1087 abstrak dan 811 makalah telah diikutsertakan dalam kegiatan ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 366 dipaparkan melalui sesi presentasi lisan, sedangkan sebanyak 445 dipaparkan melalui sesi poster.




Topik pembahasan dalam ACRS 2013

Seperti kegiatan konferensi pada umumnya, terdapat beberapa topik yang dibahas dalam kegiatan ini. Setiap topik dihadirkan dalam sesi/panel yang lebih kecil, dipimpin oleh dua orang ketua panel (chairman) dan dihadiri oleh beberapa peserta yang mempresentasikan hasil penelitian yang telah mereka lakukan berkaitan dengan topik tersebut.
Sesi panel topik Hazard

Salah satu sesi diskusi panel yang saya ikuti adalah sesi topik Hazard, dimana di dalamnya saya berkesempatan untuk menampilkan hasil penelitian saya terkait dengan bencana erupsi Gunungapi Merapi tahun 2010 yang lalu. Dalam jadwal kegiatan, sesi diskusi panel ini seharusnya diisi oleh 10 orang presenter, akan tetapi hanya enam orang hanya yang hadir dan mempresentasikan hasil penelitiannya. Beberapa topik kebencanaan yang dipaparkan diantaranya terkait dengan bencana gunungapi, kebakaran hutan, serta banjir.

Sesi khusus Kementrian Kehutanan

Sesi diskusi panel lainnya yang saya ikuti adalah sebuah sesi khusus yang diprakarsai oleh Kementrian Kehutanan Republik Indonesia. Terdapat lima orang pembicara yang hadir dalam sesi khusus ini, antara lain:
  •  Ir. Yuyu Rahayu, M.Sc (Kemenhut) yang memaparkan materi berjudul “Indonesian National Forest Monitoring System (NFMS) 
  • Ahmad Basyiruddin Usman (Kemenhut) dengan paparan yang berjudul “Stratified Monitoring and Assessment “ 
  • Dr. Projo Danoedoro (PUSPICS UGM) dengan materi yang berjudul “The Effect of Image Compression Level on the Land-cover Classification Accuracy of ALOS-AVNIR2 Data using Pixel-based and Object-based Approaches 
  • Arief Wijaya (CIFOR) yang memaparkan materi berjudul “Characterizing Forest Degradation and Assessment of Above Ground Biomass using Multiple SAR approaches: CaseStudy of Tropical Peatland Forests in Sumatera, Indonesia"
  • Prof. Dr. Florian Siegert (Ludwig Maximillian University) dengan paparan yang berjudul “Advanced Remote Sensing Technique for Forest Monitoring on Local, Regional and National Level: Multi-sensor Assessment of Forest Degradation, Forest Biomass and Carbon Emission for MRV"

Sesi ini sedikit banyak membicarakan isu-isu terkait dengan perkembangan kegiatan pengawasan area hutan dan sumberdaya hutan di Indonesia saat ini, yang lebih jauh dikaitkan dengan perkembangan terkini mengenai perubahan iklim dan energi terbarukan. Seperti halnya kita ketahui bahwa hutan dapat menjadi elemen penting yang mengatur siklus karbon di Bumi serta berpotensi besar dalam menghasilkan sumber energi baru yang ramah lingkungan dalam bentuk biomasa.



Sesi khusus topik High Frequency Radar (HF Radar)
Sesi khusus ini dipandu oleh tiga orang narasumber, yaitu Laura Pederson dari CODAR Ocean Sensor serta Dr. Hugh Roarty, dan Prof. Josh Kohut dari Coastal Ocean Observatory Lab, Rutgers University, Amerika Serikat. Pemaparan yang diberikan oleh narasumber tersebut terkait dengan penggunaan teknologi radar berfrekuensi tinggi (High Frequency Radar) untuk menjawab berbagai permasalahan khususnya di bidang oseanografi. Di Amerika Serikat, teknologi HF Radar saat ini digunakan untuk berbagai aplikasi seperti SAR, mitigasi kebocoran minyak kapal, perikanan, pemantauan arah dan kecepatan angin serta arus air laut, dan sistem peringatan dini terhadap ancaman badai di daerah pesisir pantai.

Departemen Geografi FMIPA UI
Sebagai sebuah konferensi besar berskala internasional, kegiatan ini diikuti oleh berbagai kalangan seperti, praktisi, ilmuwan, akademisi, institusi pemerintahan, serta LSM baik lokal maupun internasional. Tak terkecuali Departemen Geografi FMIPA UI sebagai salah satu institusi pendidikan yang mempunyai kompetensi dalam bidang penginderaan jauh, turun ikut serta dan berkontribusi dalam kegiatan ACRS kali ini. Bentuk keikutsertaan Departemen Geografi UI antara lain dalam bentuk makalah yang dipresentasikan dalam sesi poster serta sebuah paparan singkat tentang kegiatan penelitian yang dipresentasikan dalam sesi diskusi panel.

Sebuah makalah yang berjudul “A Method to Drive Optimal Decision Boundary in SVM for forest and non-forest Classification in Indonesia” oleh Dr. Rokhmatuloh ikut serta dalam sesi poster. Penelitian dalam makalah ini juga dikerjakan oleh Dr. Hendri Murfi dari Departemen Matematika UI, serta Ardiansyah, asisten dosen di Departemen Geografi UI.

Dalam kesempatan yang berlainan, Departemen Geografi UI juga turut serta dalam sesi diskusi panel bertajuk “Use Aerial Imageries and Remote Sensing Data in Collaborative Mapping for Developing Detailed Spatial Planning in Disaster Prone Area”. Dalam kegiatan tersebut Departemen Geografi UI yang diwakili oleh saudara Jarot Mulyo memaparkan tentang hasil kegiatan pemetaan banjir yang dilakukan menggunakan gabungan metode pengamatan melalui citra satelit dan pemetaan partisipatif/kolaboratif yang melibatkan masyarakat lokal di wilayah Jakarta.
 
Selain melibatkan civitas akademik yang aktif di departemen saat ini, beberapa alumni Departemen Geografi UI juga terlihat turut serta ambil bagian dalam perhelatan ini. Beberapa alumni tersebut, antara lain: 
  • Dr. Asep Karsidi, yang mendapat kehormatan sebagai salah satu keynote speaker pada sesi pembukaan. 
  • Laju Gandharum, sebagai bagian dari panitia pelaksana dan makalahnya yang berjudul Application of Hyperspectral Data for Discriminating Tree Species in Peatland, Central Kalimantan, Indonesia” pada sesi poster. 
  • Anindita Diah Kusumawardhani, dengan makalahnya yang berjudul “Implementation of Standard Operation Procedures for Participatory Mapping in Disaster” dalam sesi presentasi lisan. 
  • Iqbal Putut Ash Shidiq, dengan makalahnya yang berjudul “Initial Results of the Spatial Distribution of Rubber Trees in Peninsular Malaysia Using Remotely Sensed Data for Biomass Estimate” pada sesi poster, dan “Damage Assessment Modeling of Agricultural Land from Lahar in Gendol Watershed, Yogyakarta, Indonesia” dalam sesi presentasi lisan. 
  • Indra Stevanus, dengan makalahnya yang berjudul “Rice Crop Mapping using Multi-Temporal MODIS Imagery in Northern Part of West Java Province, Indonesia” dalam sesi poster.
Penutupan
Kegiatan ini ditutup dengan paparan dari ketua panitia kegiatan yang menginformasikan data dan statistik terkait dengan kegiatan tersebut. Pada acara penutupan dilakukan juga peresmian tuan rumah penyelenggaraan ACRS berikutnya. Nay Pyi Taw di Myanmar telah diresmikan untuk menjadi tempat penyelenggaraan ACRS ke-35 pada 27 hingga 31 Oktober tahun 2014 yang akan datang. IPA

No comments:

Post a Comment