Sebuah konferensi internasional di bidang penginderaan jauh
bertajuk ACRS 2013 telah dilaksanakan pada tanggal 20 – 24 Oktober 2013 yang
lalu. Kegiatan yang sudah berlangsung untuk kali ke-34 ini diadakan di
Denpasar, Bali. Kegiatan yang bertema “Bridging
Sustainable Asia” ini diselenggarakan sebagai hasil kerjasama antara
Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia (MAPIN) dengan Asian Association on Remote Sensing (AARS).
ACRS 2013 dibuka dengan kata sambutan yang diberikan oleh Dr.
Dewayani Sutrisno selaku Ketua Panitia kegiatan dan Ketua Umum MAPIN, Prof. Kohei
Cho (Sekretaris AARS), Prof. Shunji Murai (AARS), dan Prof. Gusti Muhammad
Hatta selaku Menteri Riset dan Teknologi. Selain itu, pada sesi pembukaan juga
diisi dengan berbagai paparan yang disampaikan oleh Dr. Asep Karsidi (Kepala
BIG), Drs. Bambang Tejasukmana (Kepala
LAPAN), Dr. Marzan A. Iskandar (Kepala BPPT), dan Ir. Agoes Widjanarko (PU).
Kegiatan yang menjadi salah satu konferensi penginderaan jauh
terbesar di Asia ini diikuti oleh 1379 peserta yang berasal dari beberapa
negara, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, China, Taiwan, Jepang,
India, dan Iran. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri beberapa pakar yang
berasal dari beberapa negara luar Asia, seperti Amerika Serikat, Belanda, Italia,
dan Jerman. Sebanyak 1087 abstrak dan 811 makalah telah diikutsertakan dalam
kegiatan ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 366 dipaparkan melalui sesi
presentasi lisan, sedangkan sebanyak 445 dipaparkan melalui sesi poster.
Topik pembahasan dalam ACRS 2013
Seperti kegiatan konferensi pada umumnya, terdapat beberapa topik
yang dibahas dalam kegiatan ini. Setiap topik dihadirkan dalam sesi/panel yang
lebih kecil, dipimpin oleh dua orang ketua panel (chairman) dan dihadiri oleh beberapa peserta yang mempresentasikan
hasil penelitian yang telah mereka lakukan berkaitan dengan topik tersebut.
Sesi panel topik Hazard
Salah satu sesi diskusi panel yang saya ikuti adalah sesi
topik Hazard, dimana di dalamnya saya
berkesempatan untuk menampilkan hasil penelitian saya terkait dengan bencana
erupsi Gunungapi Merapi tahun 2010 yang lalu. Dalam jadwal kegiatan, sesi
diskusi panel ini seharusnya diisi oleh 10 orang presenter, akan tetapi hanya
enam orang hanya yang hadir dan mempresentasikan hasil penelitiannya. Beberapa topik kebencanaan
yang dipaparkan diantaranya terkait dengan bencana gunungapi, kebakaran hutan,
serta banjir.
Sesi khusus Kementrian Kehutanan
Sesi diskusi panel lainnya yang saya ikuti adalah sebuah sesi
khusus yang diprakarsai oleh Kementrian Kehutanan Republik Indonesia. Terdapat
lima orang pembicara yang hadir dalam sesi khusus ini, antara lain:
- Ir. Yuyu Rahayu, M.Sc (Kemenhut) yang memaparkan materi berjudul “Indonesian National Forest Monitoring System (NFMS)
- Ahmad Basyiruddin Usman (Kemenhut) dengan paparan yang berjudul “Stratified Monitoring and Assessment “
- Dr. Projo Danoedoro (PUSPICS UGM) dengan materi yang berjudul “The Effect of Image Compression Level on the Land-cover Classification Accuracy of ALOS-AVNIR2 Data using Pixel-based and Object-based Approaches”
- Arief Wijaya (CIFOR) yang memaparkan materi berjudul “Characterizing Forest Degradation and Assessment of Above Ground Biomass using Multiple SAR approaches: CaseStudy of Tropical Peatland Forests in Sumatera, Indonesia"
- Prof. Dr. Florian Siegert (Ludwig Maximillian University) dengan paparan yang berjudul “Advanced Remote Sensing Technique for Forest Monitoring on Local, Regional and National Level: Multi-sensor Assessment of Forest Degradation, Forest Biomass and Carbon Emission for MRV"
Sesi ini
sedikit banyak membicarakan isu-isu terkait dengan perkembangan kegiatan pengawasan
area hutan dan sumberdaya hutan di Indonesia saat ini, yang lebih jauh dikaitkan
dengan perkembangan terkini mengenai perubahan iklim dan energi terbarukan.
Seperti halnya kita ketahui bahwa hutan dapat menjadi elemen penting yang
mengatur siklus karbon di Bumi serta berpotensi besar dalam menghasilkan sumber
energi baru yang ramah lingkungan dalam bentuk biomasa.
Sesi khusus
topik High Frequency Radar (HF Radar)
Sesi khusus ini dipandu oleh tiga orang narasumber, yaitu
Laura Pederson dari CODAR Ocean Sensor
serta Dr. Hugh Roarty, dan Prof. Josh Kohut dari Coastal Ocean Observatory Lab, Rutgers University, Amerika Serikat.
Pemaparan yang diberikan oleh narasumber tersebut terkait dengan penggunaan
teknologi radar berfrekuensi tinggi (High
Frequency Radar) untuk menjawab berbagai permasalahan khususnya di bidang
oseanografi. Di Amerika Serikat, teknologi HF Radar saat ini digunakan untuk
berbagai aplikasi seperti SAR, mitigasi kebocoran minyak kapal, perikanan,
pemantauan arah dan kecepatan angin serta arus air laut, dan sistem peringatan
dini terhadap ancaman badai di daerah pesisir pantai.
Departemen Geografi FMIPA UI
Sebagai sebuah konferensi besar berskala internasional,
kegiatan ini diikuti oleh berbagai kalangan seperti, praktisi, ilmuwan,
akademisi, institusi pemerintahan, serta LSM baik lokal maupun internasional.
Tak terkecuali Departemen Geografi FMIPA UI sebagai salah satu institusi
pendidikan yang mempunyai kompetensi dalam bidang penginderaan jauh, turun ikut
serta dan berkontribusi dalam kegiatan ACRS kali ini. Bentuk keikutsertaan
Departemen Geografi UI antara lain dalam bentuk makalah yang dipresentasikan
dalam sesi poster serta sebuah paparan singkat tentang kegiatan penelitian yang
dipresentasikan dalam sesi diskusi panel.
Sebuah makalah yang berjudul “A Method to Drive Optimal Decision Boundary in SVM for forest and
non-forest Classification in Indonesia” oleh Dr. Rokhmatuloh ikut serta
dalam sesi poster. Penelitian dalam makalah ini juga dikerjakan oleh Dr. Hendri
Murfi dari Departemen Matematika UI, serta Ardiansyah, asisten dosen di
Departemen Geografi UI.
Selain melibatkan civitas akademik yang aktif di departemen saat ini, beberapa alumni Departemen Geografi UI juga terlihat turut
serta ambil bagian dalam perhelatan ini. Beberapa alumni tersebut, antara lain:
- Dr. Asep Karsidi, yang mendapat kehormatan sebagai salah satu keynote speaker pada sesi pembukaan.
- Laju Gandharum, sebagai bagian dari panitia pelaksana dan makalahnya yang berjudul “Application of Hyperspectral Data for Discriminating Tree Species in Peatland, Central Kalimantan, Indonesia” pada sesi poster.
- Anindita Diah Kusumawardhani, dengan makalahnya yang berjudul “Implementation of Standard Operation Procedures for Participatory Mapping in Disaster” dalam sesi presentasi lisan.
- Iqbal Putut Ash Shidiq, dengan makalahnya yang berjudul “Initial Results of the Spatial Distribution of Rubber Trees in Peninsular Malaysia Using Remotely Sensed Data for Biomass Estimate” pada sesi poster, dan “Damage Assessment Modeling of Agricultural Land from Lahar in Gendol Watershed, Yogyakarta, Indonesia” dalam sesi presentasi lisan.
- Indra Stevanus, dengan makalahnya yang berjudul “Rice Crop Mapping using Multi-Temporal MODIS Imagery in Northern Part of West Java Province, Indonesia” dalam sesi poster.
Penutupan
Kegiatan ini ditutup dengan paparan dari ketua panitia
kegiatan yang menginformasikan data dan statistik terkait dengan kegiatan
tersebut. Pada acara penutupan dilakukan juga peresmian tuan rumah
penyelenggaraan ACRS berikutnya. Nay Pyi Taw di Myanmar telah diresmikan untuk
menjadi tempat penyelenggaraan ACRS ke-35 pada 27 hingga 31 Oktober tahun 2014
yang akan datang. IPA





No comments:
Post a Comment