Tuesday, October 16, 2012

Advanced Spatial Techniques for Environmental Analysis and Management

Latar Belakang
Spatial-tech Workshop merupakan kegiatan pelatihan tahunan yang diselenggarakan oleh ASEAN-European University Network (ASEA UNINET) bagi para anggotanya dalam bidang Geographic Information Science (GIScience). Pada kegiatan tahun 2010 ini, ASEA UNINET bekerjasama dengan Universiti Putra Malaysia (UPM) sebagai tuan rumah penyelenggara, mengangkat tema mengenai “Advanced Spatial Techniques for Environmental Analysis and Management”. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah membagi pengetahuan dan pengamalan berbagai teknik dan metode GIScience dalam pengelolaan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan yang telah dikembangkan oleh institusi ahli kepada institusi lainnya untuk meningkatkan kompetensi dan pendidikan GIScience.

Universitas Indonesia sebagai salah satu anggota ASEA UNINET diundang untuk dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini sebagai peserta pelatihan. Untuk merespon undangan tersebut, Departemen Geografi – UI mengirimkan tiga orang staf pengajarnya yang terdiri dari satu dosen dan dua asisten dosen. Dengan komposisi peserta yang dikirim tersebut diharapakan ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat di-transfer kepada institusi dan dapat melakukan regenerasi terhadap staf pengajar muda dalam skema pembimbingan dosen senior kepada para asisten.

Monday, October 15, 2012

Nostalgia Palabuhan Ratu, Sukabumi

Minggu (25/04/10). Suasana kampus MIPA yang biasanya sepi karena hari libur, pada siang itu seketika menjadi ramai. Sekelompok mahasiswa yang menamakan diri “Mahasiswa Geografi UI angkatan 2008”, sedang asik wara wiri ditengah suasana kampus yang terik. Ya, hari itu adalah hari keberangkatan Kuliah Lapang yang pertama bagi mereka. So, sepertinya wajar saja jika terlihat raut-raut antusias dari seluruh mahasiswa dalam mempersiapkan keberangkatan mereka.  Tidak ketinggalan pula sosok-sosok terkemuka Departemen Geografi, seperti Bapak Mangapul “MPT” Tambunan, Bapak Tjiong “TGP” Pin, dan Bapak Supriatna ikut hadir ditengah-tengah mereka, seraya mengamati.

Dua buah bus dengan ukuran besar dan menengah telah stenbey siap untuk dipacu melewati medan meliuk-liuk menuju daerah tujuan. Ya, tujuan Kuliah Lapang kali ini adalah Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, yang terletak di daerah pantai selatan Jawa. Daerah ini memang sudah menjadi “tradisi” sebagai lokasi Kuliah Lapang yang pertama bagi seluruh mahasiswa. Keunikan karakter fisik, dipadukan dengan kultur budaya setempat, memang selalu menjadi daya tarik sendiri bagi kami untuk mengeksplorasi daerah ini.

Tepat pukul 1.30, suara bus makin menderu, dan segera menggerakan roda-rodanya, berputar menggelindingi aspal jalanan yang masih panas karena terkena matahari.
“Ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja.”
Rasanya tepat dinyanyikan saat itu. Karena memang saya duduk tidak jauh dari bapak supir. Seraya bersandar pada kursi, perasaanku gundah gulana, sudah tak sabar rasanya ingin kembali menjejakkan kaki di sana setelah empat tahun lamanya tak bertegur sapa. Bentang alam pegunungan dan lembah selama perjalanan, menemani saya untuk flash back sejenak, mengenang saat-saat pertama berada di sana. 


Nostalgia
Dimulai dengan memori perjalanan 12 orang lelaki bernyali, yang juga dikenal sebagai “Tim Advance”, yang bermalam di mushola saat pertama kali tiba di sana. Berlanjut dengan kejadian-kejadian heboh saat menyambangi beberapa kantor desa, mulai dari kasus perselingkuhan kepala desa, kepala desa yang mesum, hingga pegawai kantor yang sangat sensitif penciumannya. “Nyengir” di bibirku tak sanggup menahan memori-memori tersebut untuk kembali muncul. Kembali teringat saat-saat santai di aliran Cimaja yang sangat jernih, hingga seorang teman yang tak kuasa “mencium” batu yang ada di depannnya pada saat ia melakukan penyelaman ke dasar Cimaja. Begitu pula dengan pedaleda, palonetto, dan joga bonito yang diperagakan saat bermain sepakbola pantai. Sampai pada akhirnya, Kuliah Lapang I Geografi angkatan 2004 benar-benar dilaksanakan.

Perjalanan masih jauh, tapi tak terasa karena “kubunuh” waktu dengan memori-memori yang teringat kembali saat melakukan survey KL. Kelompok empat beranggotakan lima (bersama Bang Dimas dan Bang Mulya, dipadu Mba Nia dan Mba Puji) dengan geomer yang berlokasi di daerah Desa Cimaja. Perjalanan menyusuri grid seluas empat kali satu kilometer. Melewati pematang sawah, kebun campuran, ladang, tegalan, permukiman, bahkan kuburan. Menikmati sejuk udara desa, bau amis daerah pesisir, “sumuk”-nya perjalanan in the middle of no where. Nebeng mobil sayur di saat berangkat, dan pulang “nge-bak” bersama, menggunakan BAKTER a.k.a “Bak Terbuka”. Tetapi selalu terkenang dan kunikmati saat itu.

Pun dengan hari ini. Exiting, can’t wait for it, mungkin tertulis di jidad saya pada saat itu. Sudah tidak sabar rasanya kembali bersua dengan mereka yang ada di sana. Keramahan penduduk, deburan ombak, kejernihan Cimaja, kehangatan air panas Cisolok, kemegahan situs-situs megalitik, keindahan batu-batu emas, kemistisan Samudera Beach, dan NRK-nya, ahh… aku tak mau menunggu lebih lama lagi untuk bertemu kalian.

Perubahan
Jam menunjukkan pukul 5.00 saat aku mencium aroma-aroma yang sudah lama kutunggu-tunggu. Ya, kami telah sampai!!! Kami tepat berada di…
Wow! Inikah Kota Pelabuhan Ratu tempat yang pernah kusinggahi dahulu? Dimana letak mushola tempat kami bermalam, dulu? Dimana letak pangkalan ojek, tempat bersahutannya “Karanghawu… Karanghawu…?”
Kota ini berubah, semakin ramai, moderen, dan berwarna. Alfamart dan Indomart dapat kutemukan dengan mudah, warnet dimana-mana, dan jalan kota menjadi semakin lebar.

Bus terus melaju menuju barat dan saya pun tak pernah habis dibuat terkejut. Sepanjang jalan menjadi semakin sesak dengan munculnya vila dan hotel. Jalan yang dulunya terasa mulus, menjadi bergelombang. Semakin banyak orang-orang albino (baca: bule) yang kutemukan. Dan… What?!! Cimaja mulai berubah menjadi daerah pertambangan pasir!!! Sambutan yang cukup mengejutkan ini mengawali perjumpaan kembali dengan tanah Palabuhan Ratu.

Ternyata tidak habis keterkejutan ku saat itu, selama tiga hari berada di Pelabuhan Ratu, banyak sekali perbedaan yang ku rasakan.

  • Suhu udara yang meningkat. Udara menjadi lebih panas dari biasanya. Cukup membuatku sering merasa haus pada saat melakukan survei lapang bersama rekan-rekan mahasiswa.
  • Penambangan pasir di aliran Cimaja. Aliran Cimaja yang jernih dan tenang, dikotori oleh debu dan suara bising dari traktor-traktor pengeruk pasir.
  • Aliran Cisolok dan hot spring yang menjadi kotor. Tempat yang pernah kujadikan idola saat bermandi air panas, kini menjadi keruh.
  • Situs megalitik yang tidak terawat. Salah situs megalitik yang berada di daerah Cimaja terlihat tidak terawat, akibat kurangnya perhatian dari pemerintah daerah. Dan menurut penuturan warga setempat, situs tersebut kini tidak menjadi bagian dalam situs-situs yang diakui sebagai situs megalitik.
    Batu pada situs megalitik - dok.Iqb
  • Gua Lalay yang tak terurus. Mungkin inilah yang paling menyita perhatian, terutama dari bapak-bapak dosen kita. Mereka sedih melihat keadaan sekitar gua yang tidak terawat. Ilalang-ilalang tinggi menghalangi jalan masuk, dan tidak terlihat satu pun petugas yang berwenang di tempat ini.
    Gua Lalay - dok.Iqb
  • Masyarakat yang semakin komersil dan serakah. Retribusi yang merajalela, sangat mengkhawatirkan.
  • Dan… apa itu??!!! Salah satu perbukitan yang ada di kota Pelabuhan Ratu bagian selatan digunduli!!! Ternyata itu adalah pembangunan sebuah rumah sakit swasta yang sudah berjalan selama satu tahun.
Ya, daerah ini memang benar-benar berubah. Walau tidak meninggalkan kesan daerah pedesaan yang damai, akan tetapi banyak sekali perubahan yang kadang membuatku tidak habis pikir. Bilamanakah engkau akan bersinar seperti dahulu, wahai Palabuhan Ratu?

Sekilas Profil Beberapa Pulau Terdepan Indonesia

Berdasarkan survey terakhir yang dilaksanakan oleh Dishidros TNI-AL, Indonesia mempunyai 17.499 pulau (sebelumnya 17.508 pulau). Dari jumlah tersebut hanya 7.349 pulau yang sudah diberi nama, sedangkan 10.150 pulau belum diberi nama tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Akan tetapi baru-baru ini UNCLOS menyatakan bahwa jumlah pulau Indonesia ialah sekitar 13.000-an pulau. Diantara pulau yang sudah diberi nama terdapat 67 pulau yang berbatasan langsung dengan negara tetangga yang memerlukan perhatian secara khusus oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (sumber: Makalah Seminar Nasional tanggal 17 April 2006 Pulau-Pulau Kecil Dipandang dari Sudut Keamanan Wilayah NKRI Oleh Kolonel Laut (P) Marsetio, MM., Kepala Staf Guspurlaarmatim).

Diantara pulau-pulau ini terdapat pulau-pulau kecil dengan kategori terluar. Menurut UU 27 Tahun 2007 ukuran pulau kecil adalah kurang dari hingga sama dengan 2.000 KM2 (Dua Ribu Kilometer Persegi) yang memiliki titik-titik dasar koordinat Geografis yang menghubungkan Garis pangkal laut kepulauan sesuai dengan hukum Internasional dan Nasional. Pulau-pulau kecil terluar secara geograrfis berbatasan dengan laut lepas dan perbatasan yang menjadi titik dasar (TD) sebagai acuan  dalam penetapan batas wilayah NKRI. Pulau-pulau kecil perbatasan merupakan wilayah NKRI yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga, sehingga memiliki arti strategis dalam pembangunan. Menurut survey yang dilakukan TNI AL dan Departemen kelautan jumlah pulau kecil terluar adalah 92 (sembilan puluh dua). Diantara Pulau-pulau kecil terluar terdapat 12 pulau yang mendapat perhatian khusus atau memperoleh prioritas penanganan yaitu:

No.
Nama Pulau
Penduduk
Provinsi
Batas Negara
Ciri
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Sekatung
Marore
Miangas
Merampit
Fani
Fanildo
Bras
Rondo
Berhala
Nipa
Batek
Dana
Tidak Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Ada
Riau
Sulut
Sulut
Sulut
Papua
Papua
Papua
NAD
Sumut
Riau
NTT
NTT
Vietnam
Philipina
Philipina
Philipina
Palau
Palau
Palau
India
Malaysia
Singapura
Timor Leste
Australia
Mercusuar
Mercusuar
Mercusuar
Mercusuar
-
-
-
Mercusuar
Mercusuar
Mercusuar
Mercusuar
Mercusuar

Berikut adalah pemaparan beberapa pulau yang termasuk dalam kategori Pulau-Pulau Kecil Terdepan, yaitu: Pulau Salura, Pulau Ndana, Pulau Mangudu, dan Pulau Kotak.

A. Pulau Salura
Pulau Salura merupakan salah satu dari empat pulau kecil yang terdapat di Kabupaten Sumba Timur. Secara absolut Pulau Salura terletak pada 10o18’47” LS dan 120o11’33” BT. Daerah ini berbatasan dengan:
  • Pulau Sumba di bagian utara.
  • Samudera Hindia di bagian timur dan selatan.
  • Pulau Mangudu, Pulau Kotak dan Samudera Hindia di bagian barat.
Secara administratif Pulau Salura termasuk dalam wilayah Kecamatan Karera, Kabupaten Sumba Timur. Luas pulau ini kurang lebih sekitar 620 hektar (sumber: Pengolahan data, 2009).


Pulau Salura - dok.Iqb

Aspek Geografi Fisik
Pulau Salura masih berada dalam satu gugusan pulau dengan Pulau Sumba, oleh karena itu kenampakan fisik yang terlihat di pulau ini tidak jauh berbeda dengan yang terdapat di Pulau Sumba. Seperti halnya Pulau Sumba, Pulau Salura juga merupakan pulau karang yang terangkat dan didominasi oleh bukit karang dan kapur, dengan lembah yang terjal dan sempit, serta batuan lepas. Keadaan topografis secara umum bagian barat pulau merupakan daerah pesisir yang landai dengan ketinggian tempat kurang dari 10 meter di atas permukaan laut. Sedangkan di bagian timur merupakan daerah dataran tinggi dengan bukit-bukit yang ditutupi oleh padang rumput serta hutan lebat di bagian lembahnya, dengan titik tertinggi yaitu sekitar 218 meter di atas permukaan laut (sumber: Pengolahan data, 2009).

Tidak jauh berbeda dengan yang terlihat di Pulau Sumba (khususnya Kabupaten Sumba Timur), keadaan tanah di Pulau Salura juga mengandung pasir, kapur, dan batu karang karena ratusan ribu tahun yang lalu daerah ini berada di bawah permukaan laut. Setelah zaman es berlalu, daratan ini muncul di atas permukaan laut, sehingga sering dijumpai berbagai jenis hewan laut seperti kerang, ikan dan tanaman laut yang telah menjadi fosil di bukit-bukit karang. Rumput-rumput pun tumbuh di atas batu-batu karang.

Pulau ini beriklim tropis dengan musim hujan yang relatif pendek dan musim kemarau yang panjang (delapan bulan). Suhu rata-rata adalah 22,5 derajat sampai 31,7 derajat Celsius. Musim hujan biasanya terjadi di bulan Desember sampai Maret. Jumlah curah hujan dalam setahun 1.860 milimeter, sehingga daerah ini termasuk daerah beriklim kering.

Aspek Geografi Sosial
Penggunaan tanah oleh masyarakat setempat sebagai tempat bermukiman hanya terlihat di bagian barat pulau, hal ini dikarenakan bagian barat memiliki dataran rendah dan pesisir yang paling luas dibandingkan bagian pulau lainnya. Pemanfaatan tanah yang terlihat di bagian timur antara lain: perumahan, fasilitas pendidikan, serta kebun/ladang. Tutupan hutan belukar, hutan lebat, dan padang rumput terlihat mendominasi di bagian tengah hingga bagian barat. Daerah ini termasuk daerah yang belum dimanfaatkan oleh penduduk setempat, dikarenakan ketinggian tempat, serta bentuk medan yang kurang mendukung karena merupakan daerah perbukitan dengan batuan-batuan lepas.

Menurut data statistik, jumlah penduduk yang tinggal di pulau ini mencapai 475 jiwa (sumber: Data Statistik Sekretaris Desa, Desa Prai Salura, 2009). Dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 240 orang dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 235 orang. Terdapat 99 rumah yang ada di pulau ini, dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 110 (sumber: Data Statistik Sekretaris Desa, Desa Prai Salura, 2009). Dari segi penguasaan tanah, seluruh wilayah pulau ini merupakan tanah hak ulayat yang telah dikuasai oleh negara. Dari segi kepemilikannya, belum satupun dari bangunan-bangunan yang ada di pulau tersebut, yang telah memiliki sertifikat tanah.

B. Pulau Ndana
Pulau Ndana terletak pada 10°59'11"LS   122°51'52"BT. Memiliki luas sekitar 1562 hektar, secara geografis pulau ini terletak di sebelah selatan Pulau Rote dan merupakan pulau paling selatan dari NKRI. Pulau ini mempunyai ketinggian tempat yang relatif rendah, dengan titik tertingginya adalah 48 mdpl. Mempunyai bentuk medan yang relatif datar namun sedikit bergelombang di bagian tengah pulau. Mempunyai tipe vegetasi hutan kering, dataran rendah, dan batuan kapur. Penggunaan tanah di pulau ini didominasi oleh hutan belukar, yang sebagian tumbuh di batuan karang yang terangkat ketika proses pembentukan pulau ini, di bagian tengah pulau dan padang rumput di pinggir pantainya. Terdapat 5 buah danau yang kesemuanya terletak pada penggunaan tanah hutan belukar di bagian tengah pulau. Penggunaan tanah yang lainnya di pulau ini adalah untuk pangkalan militer TNI AL. 


Pulau Ndana - dok.Iqb

Pemanfaatan tanah di pulau ini dimanfaatkan oleh TNI AL untuk pos penjagaan serta untuk asrama atau mess jaga para personil TNI yang tinggal di pulau tersebut. Terdapat pula areal di sekitar pos jaga yang dimanfaatkan untuk landasan helikopter (helipad). Selain itu di pulau ini juga terdapat sebidang tanah yang dimanfaatkan untuk menara suar yang tepatnya berada di bagian selatan pulau ini. Dari segi penguasaan tanah, seluruh wilayah pulau ini merupakan tanah hak ulayat yang telah dikuasai oleh negara. Dari segi kepemilikannya hanya 2 bidang tanah di pulau ini yang telah bersertifikat yaitu asrama atau pos TNI AL dan menara suar.

C. Pulau Mangudu
Pulau Mangudu terletak pada 10°19'48"LS dan 120°6'58"BT dengan luas sekitar 145 hektar (sumber: Pengolahan data, 2009). Pulau ini berbatasan dengan Samudera Hindia di bagian utara, barat, dan selatan, serta berbatasan dengan Pulau Kotak dan Pulau Salura di bagian timurnya. Pulau ini juga diperkirakan sebagai pulau karang yang terangkat. Bentuk medannya relatif datar dengan ketinggian tempat kurang dari 10 meter di atas permukaan laut. Hampir seluruh bagian pulau tertutup oleh padang rumput dan semak belukar, dan hanya terdapat sedikit hutan lebat di bagian tengah pulau.


Pulau Mangudu - dok.Dandi

Terdapat beberapa bangunan yang pernah digunakan sebagai tempat tinggal/menetap (homestay), satu bangunan dermaga, satu bangunan suar yang masih berfungsi, dan satu bangunan yang pernah digunakan sebagai pos jaga oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Akan tetapi bangunan-bangunan tersebut kini sudah tidak terpakai lagi dikarenakan pulau ini merupakan pulau yang tidak berpenghuni. Dari semua bangunan tersebut, hanya bangunan suar yang mempunyai sertifikat tanah, dan sisanya merupakan tanah milik negara yang belum dimanfaatkan lebih lanjut.

D. Pulau Kotak
Pulau Kotak terletak pada 10°18'50"LS dan 120°9'48"BT. Mempunyai luas sekitar 10 hektar. Pulau ini berbatasan dengan Samudera Hindia di bagian utara dan selatan, berbatasan dengan Pulau Mangudu di bagian barat, serta berbatasan dengan Pulau Salura di bagian timur. Mempunyai bentuk pulau seperti bukit, dengan daerah pesisir yang sempit. Didominasi oleh tutupan padang rumput, serta sedikit hutan belukar di bagian tengah. Sebagian kecil daerah di bagian timur pulau ini dimanfaatkan sebagai kebun campuran. Secara keseluruhan, pulau ini belum mempunyai sertifikat tanah, dan masih berada sepenuhnya dalam kekuasaan Negara.


Pulau Kotak - dok.Iqb


DAFTAR PUSTAKA