Diantara
pulau-pulau ini terdapat pulau-pulau kecil dengan kategori terluar. Menurut UU
27 Tahun 2007 ukuran pulau kecil adalah kurang dari hingga sama dengan 2.000 KM2
(Dua Ribu Kilometer Persegi) yang memiliki titik-titik dasar koordinat
Geografis yang menghubungkan Garis pangkal laut kepulauan sesuai dengan hukum
Internasional dan Nasional. Pulau-pulau kecil terluar secara geograrfis
berbatasan dengan laut lepas dan perbatasan yang menjadi titik dasar (TD)
sebagai acuan dalam penetapan batas
wilayah NKRI. Pulau-pulau kecil perbatasan merupakan wilayah NKRI yang
berbatasan langsung dengan Negara tetangga, sehingga memiliki arti strategis
dalam pembangunan. Menurut survey yang dilakukan TNI AL dan Departemen kelautan
jumlah pulau kecil terluar adalah 92 (sembilan puluh dua). Diantara Pulau-pulau kecil terluar
terdapat 12 pulau yang mendapat perhatian khusus atau memperoleh prioritas penanganan
yaitu:
No.
|
Nama Pulau
|
Penduduk
|
Provinsi
|
Batas Negara
|
Ciri
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
|
Sekatung
Marore
Miangas
Merampit
Fani
Fanildo
Bras
Rondo
Berhala
Nipa
Batek
Dana
|
Tidak Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Ada
|
Riau
Sulut
Sulut
Sulut
Papua
Papua
Papua
NAD
Sumut
Riau
NTT
NTT
|
Vietnam
Philipina
Philipina
Philipina
Palau
Palau
Palau
India
Malaysia
Singapura
Timor
Leste
Australia
|
Mercusuar
Mercusuar
Mercusuar
Mercusuar
-
-
-
Mercusuar
Mercusuar
Mercusuar
Mercusuar
Mercusuar
|
Berikut
adalah pemaparan beberapa pulau yang termasuk dalam kategori Pulau-Pulau Kecil
Terdepan, yaitu: Pulau Salura, Pulau Ndana, Pulau Mangudu, dan Pulau Kotak.
A. Pulau Salura
Pulau
Salura merupakan salah satu dari empat pulau kecil yang terdapat di Kabupaten
Sumba Timur. Secara absolut Pulau Salura terletak pada 10o18’47” LS
dan 120o11’33” BT. Daerah ini berbatasan dengan:
- Pulau Sumba di bagian utara.
- Samudera Hindia di bagian timur dan selatan.
- Pulau Mangudu, Pulau Kotak dan Samudera Hindia di bagian barat.
![]() |
| Pulau Salura - dok.Iqb |
Aspek Geografi Fisik
Pulau
Salura masih berada dalam satu gugusan pulau dengan Pulau Sumba, oleh karena
itu kenampakan fisik yang terlihat di pulau ini tidak jauh berbeda dengan yang
terdapat di Pulau Sumba. Seperti halnya Pulau Sumba, Pulau Salura juga
merupakan pulau karang yang terangkat dan didominasi oleh bukit karang dan
kapur, dengan lembah yang terjal dan sempit, serta batuan lepas. Keadaan
topografis secara umum bagian barat pulau merupakan daerah pesisir yang landai
dengan ketinggian tempat kurang dari 10 meter di atas permukaan laut. Sedangkan
di bagian timur merupakan daerah dataran tinggi dengan bukit-bukit yang
ditutupi oleh padang rumput serta hutan lebat di bagian lembahnya, dengan titik
tertinggi yaitu sekitar 218 meter di atas permukaan laut (sumber: Pengolahan data, 2009).
Tidak
jauh berbeda dengan yang terlihat di Pulau Sumba (khususnya Kabupaten Sumba
Timur), keadaan tanah di Pulau Salura juga mengandung pasir, kapur, dan batu
karang karena ratusan ribu tahun yang lalu daerah ini berada di bawah permukaan
laut. Setelah zaman es berlalu, daratan ini muncul di atas permukaan laut,
sehingga sering dijumpai berbagai jenis hewan laut seperti kerang, ikan dan
tanaman laut yang telah menjadi fosil di bukit-bukit karang. Rumput-rumput pun
tumbuh di atas batu-batu karang.
Pulau
ini beriklim tropis dengan musim hujan yang relatif pendek dan musim kemarau
yang panjang (delapan bulan). Suhu rata-rata adalah 22,5 derajat sampai 31,7
derajat Celsius. Musim hujan biasanya terjadi di bulan Desember sampai Maret.
Jumlah curah hujan dalam setahun 1.860 milimeter, sehingga daerah ini termasuk
daerah beriklim kering.
Aspek Geografi Sosial
Penggunaan
tanah oleh masyarakat setempat sebagai tempat bermukiman hanya terlihat di
bagian barat pulau, hal ini dikarenakan bagian barat memiliki dataran rendah
dan pesisir yang paling luas dibandingkan bagian pulau lainnya. Pemanfaatan
tanah yang terlihat di bagian timur antara lain: perumahan, fasilitas
pendidikan, serta kebun/ladang. Tutupan hutan belukar, hutan lebat, dan padang
rumput terlihat mendominasi di bagian tengah hingga bagian barat. Daerah ini
termasuk daerah yang belum dimanfaatkan oleh penduduk setempat, dikarenakan
ketinggian tempat, serta bentuk medan yang kurang mendukung karena merupakan
daerah perbukitan dengan batuan-batuan lepas.
Menurut
data statistik, jumlah penduduk yang tinggal di pulau ini mencapai 475 jiwa (sumber: Data Statistik Sekretaris Desa, Desa
Prai Salura, 2009).
Dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 240 orang dan jumlah penduduk
perempuan sebanyak 235 orang. Terdapat 99 rumah yang ada di pulau ini, dengan
jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 110 (sumber: Data Statistik Sekretaris Desa, Desa Prai Salura, 2009). Dari segi penguasaan tanah, seluruh
wilayah pulau ini merupakan tanah hak ulayat yang telah dikuasai oleh negara.
Dari segi kepemilikannya, belum satupun dari bangunan-bangunan yang ada di
pulau tersebut, yang telah memiliki sertifikat tanah.
B. Pulau Ndana
Pulau
Ndana terletak pada 10°59'11"LS 122°51'52"BT.
Memiliki luas sekitar 1562
hektar, secara geografis pulau ini terletak di sebelah selatan Pulau Rote dan
merupakan pulau paling selatan dari NKRI. Pulau ini mempunyai ketinggian tempat
yang relatif rendah, dengan titik tertingginya adalah 48 mdpl. Mempunyai bentuk
medan yang relatif datar namun sedikit bergelombang di bagian tengah pulau. Mempunyai
tipe vegetasi hutan kering, dataran rendah, dan batuan kapur. Penggunaan tanah
di pulau ini didominasi oleh hutan belukar, yang sebagian tumbuh di batuan
karang yang terangkat ketika proses pembentukan pulau ini, di bagian tengah
pulau dan padang rumput di pinggir pantainya. Terdapat 5 buah danau yang
kesemuanya terletak pada penggunaan tanah hutan belukar di bagian tengah pulau.
Penggunaan tanah yang lainnya di pulau ini adalah untuk pangkalan militer TNI
AL.
Pemanfaatan tanah di pulau ini dimanfaatkan oleh TNI AL untuk pos penjagaan serta untuk asrama atau mess jaga para personil TNI yang tinggal di pulau tersebut. Terdapat pula areal di sekitar pos jaga yang dimanfaatkan untuk landasan helikopter (helipad). Selain itu di pulau ini juga terdapat sebidang tanah yang dimanfaatkan untuk menara suar yang tepatnya berada di bagian selatan pulau ini. Dari segi penguasaan tanah, seluruh wilayah pulau ini merupakan tanah hak ulayat yang telah dikuasai oleh negara. Dari segi kepemilikannya hanya 2 bidang tanah di pulau ini yang telah bersertifikat yaitu asrama atau pos TNI AL dan menara suar.
![]() |
| Pulau Ndana - dok.Iqb |
Pemanfaatan tanah di pulau ini dimanfaatkan oleh TNI AL untuk pos penjagaan serta untuk asrama atau mess jaga para personil TNI yang tinggal di pulau tersebut. Terdapat pula areal di sekitar pos jaga yang dimanfaatkan untuk landasan helikopter (helipad). Selain itu di pulau ini juga terdapat sebidang tanah yang dimanfaatkan untuk menara suar yang tepatnya berada di bagian selatan pulau ini. Dari segi penguasaan tanah, seluruh wilayah pulau ini merupakan tanah hak ulayat yang telah dikuasai oleh negara. Dari segi kepemilikannya hanya 2 bidang tanah di pulau ini yang telah bersertifikat yaitu asrama atau pos TNI AL dan menara suar.
C. Pulau Mangudu
Pulau
Mangudu terletak pada 10°19'48"LS dan 120°6'58"BT dengan luas sekitar
145 hektar (sumber: Pengolahan
data, 2009). Pulau ini
berbatasan dengan Samudera Hindia di bagian utara, barat, dan selatan, serta
berbatasan dengan Pulau Kotak dan Pulau Salura di bagian timurnya. Pulau ini
juga diperkirakan sebagai pulau karang yang terangkat. Bentuk medannya relatif
datar dengan ketinggian tempat kurang dari 10 meter di atas permukaan laut. Hampir
seluruh bagian pulau tertutup oleh padang rumput dan semak belukar, dan hanya
terdapat sedikit hutan lebat di bagian tengah pulau.
Terdapat beberapa bangunan yang pernah digunakan sebagai tempat tinggal/menetap (homestay), satu bangunan dermaga, satu bangunan suar yang masih berfungsi, dan satu bangunan yang pernah digunakan sebagai pos jaga oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Akan tetapi bangunan-bangunan tersebut kini sudah tidak terpakai lagi dikarenakan pulau ini merupakan pulau yang tidak berpenghuni. Dari semua bangunan tersebut, hanya bangunan suar yang mempunyai sertifikat tanah, dan sisanya merupakan tanah milik negara yang belum dimanfaatkan lebih lanjut.
![]() |
| Pulau Mangudu - dok.Dandi |
Terdapat beberapa bangunan yang pernah digunakan sebagai tempat tinggal/menetap (homestay), satu bangunan dermaga, satu bangunan suar yang masih berfungsi, dan satu bangunan yang pernah digunakan sebagai pos jaga oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Akan tetapi bangunan-bangunan tersebut kini sudah tidak terpakai lagi dikarenakan pulau ini merupakan pulau yang tidak berpenghuni. Dari semua bangunan tersebut, hanya bangunan suar yang mempunyai sertifikat tanah, dan sisanya merupakan tanah milik negara yang belum dimanfaatkan lebih lanjut.
D. Pulau Kotak
Pulau
Kotak terletak pada 10°18'50"LS dan 120°9'48"BT. Mempunyai luas
sekitar 10 hektar. Pulau ini berbatasan dengan Samudera Hindia di bagian utara
dan selatan, berbatasan dengan Pulau Mangudu di bagian barat, serta berbatasan
dengan Pulau Salura di bagian timur. Mempunyai bentuk pulau seperti bukit,
dengan daerah pesisir yang sempit. Didominasi oleh tutupan padang rumput, serta
sedikit hutan belukar di bagian tengah. Sebagian kecil daerah di bagian timur
pulau ini dimanfaatkan sebagai kebun campuran. Secara keseluruhan, pulau ini
belum mempunyai sertifikat tanah, dan masih berada sepenuhnya dalam kekuasaan
Negara.
| Pulau Kotak - dok.Iqb |
DAFTAR PUSTAKA
- Data Kependudukan Kecamatan Prai Salura.
- http://sumbaisland.com/about-sumba/geography/ - Jumat 12 Juni 2009 – Geografis Sumba.
- UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL
- http://vibizlife.com/travel_details.php?pg=travel&awal=410&page=42&id=233 - Pulau Sumba Selalu Indah Rabu, 05 September 2007 16.42 WIB.



No comments:
Post a Comment