Monday, October 15, 2012

Nostalgia Palabuhan Ratu, Sukabumi

Minggu (25/04/10). Suasana kampus MIPA yang biasanya sepi karena hari libur, pada siang itu seketika menjadi ramai. Sekelompok mahasiswa yang menamakan diri “Mahasiswa Geografi UI angkatan 2008”, sedang asik wara wiri ditengah suasana kampus yang terik. Ya, hari itu adalah hari keberangkatan Kuliah Lapang yang pertama bagi mereka. So, sepertinya wajar saja jika terlihat raut-raut antusias dari seluruh mahasiswa dalam mempersiapkan keberangkatan mereka.  Tidak ketinggalan pula sosok-sosok terkemuka Departemen Geografi, seperti Bapak Mangapul “MPT” Tambunan, Bapak Tjiong “TGP” Pin, dan Bapak Supriatna ikut hadir ditengah-tengah mereka, seraya mengamati.

Dua buah bus dengan ukuran besar dan menengah telah stenbey siap untuk dipacu melewati medan meliuk-liuk menuju daerah tujuan. Ya, tujuan Kuliah Lapang kali ini adalah Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, yang terletak di daerah pantai selatan Jawa. Daerah ini memang sudah menjadi “tradisi” sebagai lokasi Kuliah Lapang yang pertama bagi seluruh mahasiswa. Keunikan karakter fisik, dipadukan dengan kultur budaya setempat, memang selalu menjadi daya tarik sendiri bagi kami untuk mengeksplorasi daerah ini.

Tepat pukul 1.30, suara bus makin menderu, dan segera menggerakan roda-rodanya, berputar menggelindingi aspal jalanan yang masih panas karena terkena matahari.
“Ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja.”
Rasanya tepat dinyanyikan saat itu. Karena memang saya duduk tidak jauh dari bapak supir. Seraya bersandar pada kursi, perasaanku gundah gulana, sudah tak sabar rasanya ingin kembali menjejakkan kaki di sana setelah empat tahun lamanya tak bertegur sapa. Bentang alam pegunungan dan lembah selama perjalanan, menemani saya untuk flash back sejenak, mengenang saat-saat pertama berada di sana. 


Nostalgia
Dimulai dengan memori perjalanan 12 orang lelaki bernyali, yang juga dikenal sebagai “Tim Advance”, yang bermalam di mushola saat pertama kali tiba di sana. Berlanjut dengan kejadian-kejadian heboh saat menyambangi beberapa kantor desa, mulai dari kasus perselingkuhan kepala desa, kepala desa yang mesum, hingga pegawai kantor yang sangat sensitif penciumannya. “Nyengir” di bibirku tak sanggup menahan memori-memori tersebut untuk kembali muncul. Kembali teringat saat-saat santai di aliran Cimaja yang sangat jernih, hingga seorang teman yang tak kuasa “mencium” batu yang ada di depannnya pada saat ia melakukan penyelaman ke dasar Cimaja. Begitu pula dengan pedaleda, palonetto, dan joga bonito yang diperagakan saat bermain sepakbola pantai. Sampai pada akhirnya, Kuliah Lapang I Geografi angkatan 2004 benar-benar dilaksanakan.

Perjalanan masih jauh, tapi tak terasa karena “kubunuh” waktu dengan memori-memori yang teringat kembali saat melakukan survey KL. Kelompok empat beranggotakan lima (bersama Bang Dimas dan Bang Mulya, dipadu Mba Nia dan Mba Puji) dengan geomer yang berlokasi di daerah Desa Cimaja. Perjalanan menyusuri grid seluas empat kali satu kilometer. Melewati pematang sawah, kebun campuran, ladang, tegalan, permukiman, bahkan kuburan. Menikmati sejuk udara desa, bau amis daerah pesisir, “sumuk”-nya perjalanan in the middle of no where. Nebeng mobil sayur di saat berangkat, dan pulang “nge-bak” bersama, menggunakan BAKTER a.k.a “Bak Terbuka”. Tetapi selalu terkenang dan kunikmati saat itu.

Pun dengan hari ini. Exiting, can’t wait for it, mungkin tertulis di jidad saya pada saat itu. Sudah tidak sabar rasanya kembali bersua dengan mereka yang ada di sana. Keramahan penduduk, deburan ombak, kejernihan Cimaja, kehangatan air panas Cisolok, kemegahan situs-situs megalitik, keindahan batu-batu emas, kemistisan Samudera Beach, dan NRK-nya, ahh… aku tak mau menunggu lebih lama lagi untuk bertemu kalian.

Perubahan
Jam menunjukkan pukul 5.00 saat aku mencium aroma-aroma yang sudah lama kutunggu-tunggu. Ya, kami telah sampai!!! Kami tepat berada di…
Wow! Inikah Kota Pelabuhan Ratu tempat yang pernah kusinggahi dahulu? Dimana letak mushola tempat kami bermalam, dulu? Dimana letak pangkalan ojek, tempat bersahutannya “Karanghawu… Karanghawu…?”
Kota ini berubah, semakin ramai, moderen, dan berwarna. Alfamart dan Indomart dapat kutemukan dengan mudah, warnet dimana-mana, dan jalan kota menjadi semakin lebar.

Bus terus melaju menuju barat dan saya pun tak pernah habis dibuat terkejut. Sepanjang jalan menjadi semakin sesak dengan munculnya vila dan hotel. Jalan yang dulunya terasa mulus, menjadi bergelombang. Semakin banyak orang-orang albino (baca: bule) yang kutemukan. Dan… What?!! Cimaja mulai berubah menjadi daerah pertambangan pasir!!! Sambutan yang cukup mengejutkan ini mengawali perjumpaan kembali dengan tanah Palabuhan Ratu.

Ternyata tidak habis keterkejutan ku saat itu, selama tiga hari berada di Pelabuhan Ratu, banyak sekali perbedaan yang ku rasakan.

  • Suhu udara yang meningkat. Udara menjadi lebih panas dari biasanya. Cukup membuatku sering merasa haus pada saat melakukan survei lapang bersama rekan-rekan mahasiswa.
  • Penambangan pasir di aliran Cimaja. Aliran Cimaja yang jernih dan tenang, dikotori oleh debu dan suara bising dari traktor-traktor pengeruk pasir.
  • Aliran Cisolok dan hot spring yang menjadi kotor. Tempat yang pernah kujadikan idola saat bermandi air panas, kini menjadi keruh.
  • Situs megalitik yang tidak terawat. Salah situs megalitik yang berada di daerah Cimaja terlihat tidak terawat, akibat kurangnya perhatian dari pemerintah daerah. Dan menurut penuturan warga setempat, situs tersebut kini tidak menjadi bagian dalam situs-situs yang diakui sebagai situs megalitik.
    Batu pada situs megalitik - dok.Iqb
  • Gua Lalay yang tak terurus. Mungkin inilah yang paling menyita perhatian, terutama dari bapak-bapak dosen kita. Mereka sedih melihat keadaan sekitar gua yang tidak terawat. Ilalang-ilalang tinggi menghalangi jalan masuk, dan tidak terlihat satu pun petugas yang berwenang di tempat ini.
    Gua Lalay - dok.Iqb
  • Masyarakat yang semakin komersil dan serakah. Retribusi yang merajalela, sangat mengkhawatirkan.
  • Dan… apa itu??!!! Salah satu perbukitan yang ada di kota Pelabuhan Ratu bagian selatan digunduli!!! Ternyata itu adalah pembangunan sebuah rumah sakit swasta yang sudah berjalan selama satu tahun.
Ya, daerah ini memang benar-benar berubah. Walau tidak meninggalkan kesan daerah pedesaan yang damai, akan tetapi banyak sekali perubahan yang kadang membuatku tidak habis pikir. Bilamanakah engkau akan bersinar seperti dahulu, wahai Palabuhan Ratu?

No comments:

Post a Comment