Minggu (25/04/10). Suasana
kampus MIPA yang biasanya sepi karena hari libur, pada siang itu seketika
menjadi ramai. Sekelompok mahasiswa yang menamakan diri “Mahasiswa Geografi UI
angkatan 2008”, sedang asik wara wiri ditengah suasana kampus yang terik. Ya,
hari itu adalah hari keberangkatan Kuliah Lapang yang pertama bagi mereka. So, sepertinya wajar saja jika terlihat
raut-raut antusias dari seluruh mahasiswa dalam mempersiapkan keberangkatan
mereka. Tidak ketinggalan pula sosok-sosok
terkemuka Departemen Geografi, seperti Bapak Mangapul “MPT” Tambunan, Bapak
Tjiong “TGP” Pin, dan Bapak Supriatna ikut hadir ditengah-tengah mereka, seraya
mengamati.
Dua buah bus dengan ukuran besar
dan menengah telah stenbey siap untuk
dipacu melewati medan meliuk-liuk menuju daerah tujuan. Ya, tujuan Kuliah
Lapang kali ini adalah Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, yang terletak di
daerah pantai selatan Jawa. Daerah ini memang sudah menjadi “tradisi” sebagai
lokasi Kuliah Lapang yang pertama bagi seluruh mahasiswa. Keunikan karakter
fisik, dipadukan dengan kultur budaya setempat, memang selalu menjadi daya
tarik sendiri bagi kami untuk mengeksplorasi daerah ini.
Tepat pukul 1.30, suara bus makin
menderu, dan segera menggerakan roda-rodanya, berputar menggelindingi aspal
jalanan yang masih panas karena terkena matahari.
“Ku
duduk samping pak kusir yang sedang bekerja.”
Rasanya tepat dinyanyikan saat
itu. Karena memang saya duduk tidak jauh dari bapak supir. Seraya bersandar
pada kursi, perasaanku gundah gulana, sudah tak sabar rasanya ingin kembali menjejakkan
kaki di sana setelah empat tahun lamanya tak bertegur sapa. Bentang alam
pegunungan dan lembah selama perjalanan, menemani saya untuk flash back sejenak, mengenang saat-saat
pertama berada di sana.
Nostalgia
Dimulai dengan memori
perjalanan 12 orang lelaki bernyali, yang juga dikenal sebagai “Tim Advance”,
yang bermalam di mushola saat pertama kali tiba di sana. Berlanjut dengan kejadian-kejadian
heboh saat menyambangi beberapa kantor desa, mulai dari kasus perselingkuhan
kepala desa, kepala desa yang mesum, hingga pegawai kantor yang sangat sensitif
penciumannya. “Nyengir” di bibirku tak sanggup menahan memori-memori tersebut untuk
kembali muncul. Kembali teringat saat-saat santai di aliran Cimaja yang sangat
jernih, hingga seorang teman yang tak kuasa “mencium” batu yang ada di
depannnya pada saat ia melakukan penyelaman ke dasar Cimaja. Begitu pula dengan
pedaleda, palonetto, dan joga bonito
yang diperagakan saat bermain sepakbola pantai. Sampai pada akhirnya, Kuliah
Lapang I Geografi angkatan 2004 benar-benar dilaksanakan.
Perjalanan masih jauh, tapi tak
terasa karena “kubunuh” waktu dengan memori-memori yang teringat kembali saat
melakukan survey KL. Kelompok empat beranggotakan lima (bersama Bang Dimas dan
Bang Mulya, dipadu Mba Nia dan Mba Puji) dengan geomer yang berlokasi di daerah
Desa Cimaja. Perjalanan menyusuri grid seluas empat kali satu kilometer.
Melewati pematang sawah, kebun campuran, ladang, tegalan, permukiman, bahkan
kuburan. Menikmati sejuk udara desa, bau amis daerah pesisir, “sumuk”-nya
perjalanan in the middle of no where.
Nebeng mobil sayur di saat berangkat, dan pulang “nge-bak” bersama, menggunakan
BAKTER a.k.a “Bak Terbuka”. Tetapi selalu terkenang dan kunikmati saat itu.
Pun dengan hari ini. Exiting, can’t wait for it, mungkin tertulis di jidad saya pada saat itu.
Sudah tidak sabar rasanya kembali bersua dengan mereka yang ada di sana.
Keramahan penduduk, deburan ombak, kejernihan Cimaja, kehangatan air panas
Cisolok, kemegahan situs-situs megalitik, keindahan batu-batu emas, kemistisan
Samudera Beach, dan NRK-nya, ahh… aku tak mau menunggu lebih lama lagi untuk
bertemu kalian.
Perubahan
Jam menunjukkan pukul 5.00 saat
aku mencium aroma-aroma yang sudah lama kutunggu-tunggu. Ya, kami telah sampai!!!
Kami tepat berada di…
Wow! Inikah Kota Pelabuhan Ratu
tempat yang pernah kusinggahi dahulu? Dimana letak mushola tempat kami bermalam,
dulu? Dimana letak pangkalan ojek, tempat bersahutannya “Karanghawu…
Karanghawu…?”
Kota ini berubah, semakin
ramai, moderen, dan berwarna. Alfamart dan Indomart dapat kutemukan dengan
mudah, warnet dimana-mana, dan jalan kota menjadi semakin lebar.
Bus terus melaju menuju barat
dan saya pun tak pernah habis dibuat terkejut. Sepanjang jalan menjadi semakin
sesak dengan munculnya vila dan hotel. Jalan yang dulunya terasa mulus, menjadi
bergelombang. Semakin banyak orang-orang albino (baca: bule) yang kutemukan.
Dan… What?!! Cimaja mulai berubah
menjadi daerah pertambangan pasir!!! Sambutan yang cukup mengejutkan ini
mengawali perjumpaan kembali dengan tanah Palabuhan Ratu.
Ternyata tidak habis
keterkejutan ku saat itu, selama tiga hari berada di Pelabuhan Ratu, banyak
sekali perbedaan yang ku rasakan.
- Suhu udara yang meningkat. Udara menjadi lebih panas dari
biasanya. Cukup membuatku sering merasa haus pada saat melakukan survei lapang
bersama rekan-rekan mahasiswa.
- Penambangan pasir di aliran
Cimaja. Aliran
Cimaja yang jernih dan tenang, dikotori oleh debu dan suara bising dari
traktor-traktor pengeruk pasir.
- Aliran Cisolok dan hot spring yang menjadi kotor. Tempat yang pernah kujadikan
idola saat bermandi air panas, kini menjadi keruh.
- Situs megalitik yang tidak
terawat. Salah
situs megalitik yang berada di daerah Cimaja terlihat tidak terawat, akibat
kurangnya perhatian dari pemerintah daerah. Dan menurut penuturan warga
setempat, situs tersebut kini tidak menjadi bagian dalam situs-situs yang
diakui sebagai situs megalitik.
 |
| Batu pada situs megalitik - dok.Iqb |
- Gua Lalay yang tak terurus. Mungkin inilah yang paling
menyita perhatian, terutama dari bapak-bapak dosen kita. Mereka sedih melihat
keadaan sekitar gua yang tidak terawat. Ilalang-ilalang tinggi menghalangi
jalan masuk, dan tidak terlihat satu pun petugas yang berwenang di tempat ini.
 |
| Gua Lalay - dok.Iqb |
- Masyarakat yang semakin
komersil dan serakah. Retribusi
yang merajalela, sangat mengkhawatirkan.
- Dan… apa itu??!!! Salah satu perbukitan yang ada di kota Pelabuhan Ratu
bagian selatan digunduli!!! Ternyata itu adalah pembangunan sebuah rumah sakit
swasta yang sudah berjalan selama satu tahun.
Ya, daerah ini memang benar-benar berubah. Walau tidak meninggalkan kesan daerah pedesaan yang damai, akan tetapi banyak sekali perubahan yang kadang membuatku tidak habis pikir. Bilamanakah engkau akan bersinar seperti dahulu, wahai Palabuhan Ratu?